Apa Yang Bisa Dilakukan Pelajar?

 

Menjadi pelajar mungkin dialami oleh nyaris setiap orang di muka bumi ini, walaupun pada faktanya banyak anak-anak yang tak pernah menikmati bangku sekolah, dan alasan utama banyaknya anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan formal adalah kapitalisasi pendidikan, dimana dunia pendidikan berubah menjadi dunia industri berbiaya tinggi dan hanya menghasilkan tenaga kerja siap kerja dengan doktrinasi mengenai persaingan bebas dalam nasionalisme yang akan terus mengakar di dalam kepala suci nya seumur hidup.

Untuk menjadi pelajar kritis, menjadi seorang pelajar pejuang dan bahasa kerennya menjadi aktivis pelajar, mulailah dengan mengedukasi diri, tumbuhkan jiwa kritis dan selalu ingin bertanya atas semua yang dijelaskan pengajar, yang ditulis dibuku, maupun ajaran-ajaran adat lama yang dilanggengkan oleh keluarga. Bukan hal mudah? Pastinya, karena hidup dikeluarga konservatif dan menjunjung tinggi hierarki atas nama tradisi, sopan santun, atau moral yang tak berguna pasti anak bahkan istri tidak mempunyai kekuatan apapun saat beradu argumentasi dengan “sang pemimpin besar” keluarga, walaupun mungkin anda mempunyai argumen valid sebagai jawaban atas semua pernyataan sang ayah. Lantas bagaimana menghadapi nya? Tumbuhkanlah keberanian, mulailah jadi radikal dari lingkungan terkecil seperti keluarga. Hal-hal buruk mungkin menjadi resiko, mulai dari beberapa tamparan, pemotongan uang saku, hingga dikurung berhari-hari didalam kamar, namun anda perlu mengingat kutipan legendaris ini “tak ada perjuangan tanpa rasa sakit’, jadilah martir bagi kebebasan diri anda dari dogma moralis, dan pastinya tanggungjawab menjadi hal yang amat penting, bertanggungjawablah atas semua hal yang sudah anda lakukan maupun anda ucapkan, karena melarikan diri dari kenyataan adalah sebuah bentuk kepengecutan.

Mulailah mengedukasi diri, baca banyak buku, baca tulisan pendahulu-pendahulu kita,dan dalam membaca anda tetap harus menggunakan daya kritis atas setiap pemikiran tokoh yang tertuang di buku yang sedang dibaca, jangan pernah menjadi dogmatis dan menjadi pengekor atas semua pemikiran idola anda, seoang anarkis harus merdeka dengan pemikirannya sendiri, anda harus membunuh setiap idola di kepala anda, entah itu Karl Marx, Bakunin, maupun Goldman. Seorang anarkis hendaknya mempunyai pemikiran yang unik alias berbeda dengan orang lain. Anarkisme sendiri akan kehilangkan anarkisnya saat penganut nya menjadi seorang yang dogmatis dan menjadi kloningan dari orang lain. Sebelum melangkah lebih jauh untuk menjadi pelajar anarkis, satu hal ini lah yang perlu menjadi pegangan anda yaitu “Jadilah Diri Anda Sendiri”.

Lalu apa yang harus kulakukan selanjutnya setelah membaca dan sedikit kurang ajar melawan orang tua? Ada banyak yang bisa anda lakukan, seperti mulai menggunakan sosial media di ponsel anda dan mencari kontak person kolektif maupun komunitas perlawanan terdekat dengan kota anda, mungkin jika anda beruntung anda bisa menemukan komunitas anarkis yang aktif bergerak di kota anda. Mulai terhubung dan pantau setiap aktivitas akun-akun yang sudah anda temukan, jikka anda merasa waktunya sudah tepat anda bisa mulai bergabung dengan mereka, ikuti setiap perkumpulan dan acara komunitas tersebut, saling bertukarpikiranlah dengan anggota-anggotanya. Darisitu anda bisa mendapat tambahan ilmu yang mungkin bisa anda gunakan dikemudian hari. Lalu bagaimana jika saya tidak bisa menemukan komunitas perlawanan di kota saya? Saya mengalami hal yang sama dengan yang anda rasakan saat ini, hidup dikota kecil dan jauh dari sorotan media, lalu apa yang saya lakukan? Ada 2 hal yang saya lakukan, pertama saya memulai aksi indvidualis dengan kesadaran penuh dan tanpa paksaan seseorang, seperti bersolidaritas untuk setiap isu baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Seperti apa solidaritas yang bisa saya lakukan? Sederhana saja, anda bisa membantu mendonasikan sebagian harta atau membeli produk-produk produksi kelompok-kelompok perlawanan untuk solidaritas jika anda mungkin berasal dari kelas menengah keatas yang tidak mempunyai masalah keuangan, namun jika anda hanya seorang pelajar dengan keuangan terbatas, anda bisa melakukan hal sederhana seperti berfoto dengan jaket dan kostum standar seccurity culture sambil membawa poster solidaritas lalu menyebarkannya ke akun perlawanan terkat atau ke sosial media anda sendiri. Mudah bukan? Selama ini kita hanya terpaku pada aksi besar seperti demonstrasi besar, insureksi, maupun aksi sabotase, padahal aksi sendiri bisa sangat sederhana,sesederhana berfoto dengan membawa poster solidaritas lalu menyebarkannya. Lalu apa dampak dari berfoto dengan poster solidaritas? Pasti anda akan berfikir sinis dan menganggap hal ini adalah kesia-sian dan hanya buang-buang waktu. Jika iya nampaknya anda perlu merenungkan fakta bahwa jika para pejuang yang tengah kehilangan semangat juang karena kebuntuan masa depan melihat foto solidaritas dari seorang pelajar dari kota yang berbeda atau bahkan negara yang berbeda pasti akan meningkat semangat juang para pejuang yang anda solidaritasi, bukan Cuma itu saja, bisa juga dengan melihat foto sederhana anda bisa membuat anarkis-anarkis yang hidup di kota anda namun terpencar-pencar menjadi terpantik untuk berkumpul. Jadi jangan pernah meremehkan setiap aksi sekecil apapun yang bisa anda lakukan. Mulailah bersolidaritas untuk pejuang-pejuang kita yang tengah berjuang entah dimanapun mereka berada.

Baik, aku sudah mulai bersolidaritas, lalu apa lagi yang saya bisa lakukan? Jika anda masih membaca hingga paragaraf ini nampaknya anda seorang pejuang tangguh dan tidak mudah puas dengan hal yang sudah dilakukan, saya apresiasi itu, seorang pelajar dengan usia muda hendaknya tetap menjaga api semangat anarkis di dalam jiwa nya. Menjawab pertanyaan anda diatas tadi, setelah bersolidaritas anda bisa memulai hal yang lebih besar seperti menyerang sekolah anda, menyerang sekolah? Apakah aku tidak terlalu dini untukku? Tidak ada istilah terlalu dini untuk sebuah perlawanan. Jika anda masih dipenuhi akan ketakutan, saya bisa memaklumi itu, seorang anarkis muda, mungkin baru membaca beberapa buku lalu akan menyerang sekolah. Namun sampai kapan anda akan tetap diinjak dan ketakutan untuk melawan? Tak perlu serangan besar, namun jika anda menginginkan sebuah serangan besar saya apresiasi semangat anda dan tetap perhatikan keamanan selama serangan anda, namun jika anda belum punya keberanian besar untuk sebuah serangan besar, anda bisa mulai serangan kecil seperti vandal menggunakan pilok atau spidol permanen di objek-objek sekolah tertentu untuk menuliskan tuntutan – tuntutan. Yang pasti jangan jadikan objek yang dapat mengganggu proses pendidikan sebagai arena vandal seperti papan tulis, buku pelajaran, atau komputer, anda bisa menyerang objek tembok, pintu, maupun jendela, atau jika anda punya cukup keberanian anda bisa bervandal ria di kantor sekolah saat sepi dan aman.

Lalu ada apalagi yang bisa saya lakukan? Nampaknya anda begitu bersemangat ya, jika anda merasa belum cukup dengan hal-hal diatas, anda bisa mula berkolektif ataupun aksi individu menyerang simbol kapital, ntah sekedar vandal ataupun aksi yang sedikit lebih keras seperti membakar atau memecahkan kaca, objek yang bisa anda jadikan sasaran pun beragam, mulai dari pos jaga polisi, kantor polisi atau tentara, bank atau ATM, kantor pejabat, maupun kantor partai politik. Dan tetap tanpa bosan saya ingatkan untuk menjaga keamanan, seperti merekeyasa plat kendaraan saat akan menyerang, menggunakan sarung tangan, dan meneliti dahulu objek serangan, seperti mengawasi letak cctv maupun jalur untuk lari. Anda bisa bergabung dengan berbagai komunitas lain yang menurut anda cukup radikal dan memulai banyak hal yang bisa anda lakukan.

 

Ameyuri Ringo