Catatan Individual Tentang LGBTQ

Catatan Individual Tentang LGBTQ

Apa yang harus dilakukan masyarakat LGBTQ

Seperti yang kita ketahui sampai saat ini, kehidupan masyarakat LGBTQ masih terus di anggap sebagai sebuah dosa, bahkan penyebab bencana, juga tidak sedikit pula melakukan tindakan kekerasan fisik yang mengerikan karena pilihan hidupnya.

Kekerasan terus terjadi bahkan di negara yang mengklaim dirinya sebagai negeri yang ramah LGBTQ (red. Indonesia)

Lantas apa yang dapat kita lakukan?

Banyak hal, yang menimpa kita, dan hal ini harus dilawan. Tidak ada pembenaran atas kebenaran. Edukasi kepada masyarakat adalah kuncinya, bukan hanya untuk masyarakat sipil, tetapi juga untuk para LGBTQ yang belum memiliki kesadaran, demikian halnya dengan diskusi seksi yang berkaitan dengan masalah atau dosa, selain kemurnian dari keunikan alam semesta.
Hingga stigma mengancam LGBTQ ancaman. Apakah kita melihat ruang seksi saja?

16 Januari 2019

Ameyuri Ringo

Komunike Jaringan Individual Bojonegoro Atas Serangkaian Teror Vandalisme di Bojonegoro.

Komunike Jaringan Individual Bojonegoro Atas Serangkaian Teror Vandalisme di Bojonegoro.

apa yang saya coret atau kami terserahlah kalian menyebut apa ,Tiada bandingannya kerusakan yang kami sebabkan daripada apa yang pernah dilakukan oleh para pemimpin dan perwakilan bajingan itu. Kami tak mau mewakilkan atau diwakilkan atas nama siapapun, kami tak mengemban sebagai garis depan revolusi. Kami berjuang atas individu kami sendiri atas apa yang kami alami tentang pembodohan publik yang dilakukan oleh para elite partai dan para antek anteknya, kami dimiskinkan secara structural oleh system yang ada dan tentunya bank sialan yang selalu menipu, merampas dan melilit keluarga kami. Aksi saya hanya sebatas peringatan ataupun terror bagi para babi gendut berdasi bahwa saya ataupun kami bisa memberontak, kami tidak ingin ada roda gigi di kepala bak orang bodoh bahkan bukan manusia tetapi robot yang selalu dikendalikan dan tak bisa berbuat apa apa, kami ingin melepas segala kontrol dan dominasi sekarang yang membuat kami tertindas.
Apa yang kami perjuangkan adalah hidup kami sendiri, kami menolak untuk diwakilkan dan mewakilkan segala nama ataupun sebuah kelompok. Kami menuntut sampai kapanpun agar terciptanya masyarakat yang setara tanpa kelas, demokrasi partisipatif bagi setiap warga, kebebasan individu, dan tentunya penghancuran segala macam hirarki dan bentuk pengeksploitasian manusia serta penghapusan Negara . Segala ketimpangan sosial ini harus segera di akhiri, kami akan selalu mencoret coret atau kalau perlu menghancurkan terhadap segala bangunan yang menyimbolkan ketimpangan sosial bagi kehidupan kami ataupun diri saya sendiri.

Serangkaian aksi teror kami, dimulai dari peringatan hari buruh lalu dan pada puncaknya serangan-serangan vandal dan bom air seni di kantor DPRD Bojonegoro dan beberapa kantor Bank yang merupakan alat kapital. Kemuakan kami pada penindasan oleh negara dan kapital, kesewenang-wenangan pemda Bojonegoro baru-baru ini seperti menghabiskan APBD yang harusnya untuk warga kecil justru digunakan untuk jalan-jalan keluar negeri. Apa yang kami lakukan adalah sebagian kecil dari kemuakan kami yang setiap hari semakin menumpuk dan menumbuhkan bom waktu, serangan kami akan terus berlanjut dan mungkin bukan hanya coretan tembok lagi. Tak usah menunggu pembebasan mulailah rebut kebebebasanmu sendiri. Tak usah menunggu revolusi besar, mulailah revolusi diri sendiri dan REVOLUSI DIMULAI HARI INI! Panjang umur pembangkangan! dan Hormatku untuk Saudaraku yang menabur Api Perlawanan Di Setiap Daerah.

Jaringan Individual Bojonegoro

Beberapa foto vandalisme di kantor DPRD dan Bank

Solidaritas Untuk Para Pejuang Waduk Sepat

Solidaritas untuk para pejuang Waduk Sepat – Sebagai seorang individu merdeka, saya mendukung penuh perlawanan warga dan para aktivis dalam mempertahankan Waduk Sepat dari para setan tanah yang hendak mengurug waduk menjadi perumahan elit. Beberapa aktivis juga telah di kriminalisasi negara selaku pelindung kapitalisme, maka sudah saatnya berhenti percaya dan berharap pada kebaikan negara. Selamatkan Waduk Sepat! Bebaskan semua tahanan!

Anarchism Is a Utopian? Direct Action Manifesto

Anarchism is a utopia, anarchism is delusion, anarchism is day-dream, and for all phrase that I often met during discussion into debate, both in social and media forum. Anarchism considered a utopia because patterns of thought considers that hierarchy and authority are the key regularity. I don’t blame you for your perception, it is always be our basic education that centralized authority is the key order but, if you look deeper and yet, maybe they block their minds from reality of anarchy as the living on earth. But for the most important is doing and fighting for anarchy we believe as struggle of belief. If we believe to be’s Berkman, Bakunin, Proudhon or even still to become else so we also a utopia.

If anarchism is an action and is real. We don’t have to think about what it is and how is anarchist act? If you ask about this directly to me, for sure, I will soon respond in a loud “it is a folly”. Anarchism is not a Mayor’s Office detonation or the police beat up as in May Day. I always emphasize myself, that we are anarchists should have any reason of actions, as every direct actions on behalf of anarchy and freedom, based on philosophy of thinking. The nature mind as an action is something connected to each other, but mostly today, we find that people’s thought is too much, none of actions. These people deserve so-called utopians.

Anarchism is a dream, a hope of freedom, yet anarchism for everyone is certainly different, an anarchist isn’t an illusion character, an anarchist is an independent thinker without being affected the shadow of the figure of idols. Let’s start the independence your mind and, begin to free your mind and realized it was the results of your own thoughts into life no matter how small it is.

“Build Your Own Dream”

Apepi Chitons 

Vandalisme dan Gerakan Anarkisme


Vandalisme saat ini terus dicitrakan sebagai hal negatif, sama dengan anarkisme. Vandalisme terus dimaknai sebagai perusakan sarana publik oleh manusia-manusia jail, namun jika kita mau sedikit mengubah pandangan kita, vandalisme merupakan jeritan hati yang dirasakan oleh para pelakunya, lantas mengapa mereka memilih jalan vandalisme? Ada banyak jawaban sebenarnya, namun yang saya alami adalah ketidakmungkinan mengadakan demonstrasi karena masalah jumlah dan juga masalah anonimitas. Vandalisme memang bukan hal yang diklaim sebagai milik gerakan anarkis, walaupun vandalisme banyak dipilih oleh penganut anarkisme, utamanya yang bergerak lone wolf.

Sebenarnya apa sih vandalisme itu? Vandalisme menurutku adalah sebuah aktivitas mencoret-coret, poster bombing, maupun perusakan terhadap suatu objek.

Jadi benar kan bahwa vandalisme adalah sebuah perusakan fasilitas? Ya, anda benar dan saya tak akan membantahnya, namun saya hanya akan sedikit menambahkan bahwa anda sekalian perlu melihat latar belakang dari sesuatu, ingat selalu hukum sebab akibat akan selalu berlaku dimana pun anda.

Lalu bagaimana vandalisme seorang anarkis seharusnya? Sebenarnya tak ada aturan tentang bagaimana vandalisme seorang anarkis, saya tak ingin menjadi sosok yang mengatur disini, tapi menurutku pribadi, vandalisme hendaknya dilakukan sebagai sebuah tuntutan maupun agitasi terhadap sebuah masalah dan sasaran vandalisme nya adalah alat-alat kapital dan negara seperti kantor polisi, kantor pemerintahan, bank, restoran cepat saji, maupun kantor korporasi. Seorang anarkis menurutku harusnya sadar bahwa objek vandalisme harusnya adalah alat-alat kapital dan negara bukannya property penduduk dan fasilitas publik.

Banyak yang menganggap vandalisme hanyalah perusakan sia-sia dan merugikan masyarakat, namun saya teringat ucapan Chris Bowen, seorang anarkis Kanada, pernah berujar “hanya jendela yang pecah, bukan kehidupan. Kekerasan terbesar justru dilakukan oleh perusahaan kapitalistik. Mereka merusak lingkungan dan menghancurkan kehidupan manusia. Jadi siapa pelaku vandalisme sebenarnya?”. Kalimat singkat diatas saya harap bisa membuka sedikit hati kalian dalam memandang dunia. Media, negara, dan kebanyakan masyarakat diam saja saat korporasi besar seperti McDonalds menguasai tanah-tanah luas di dunia ketiga dan megakibatkan penduduk lokal harus terusir dan menebang hutan untuk tempat tinggal, bercocok tanam dengan bahan kimia berlebih dan eksploitasi (baca:perbudakan) buruh berlebih, kemana kalian saat vandalisme yang akan merusak kehidupan kita ini terjadi? Kemana media dan negara saat perusahaan tambang menghancurkan ratusan hektar hutan? Saat perusahaan-perusahaan perkebunan kakao di Afrika yang memperbudak anak-anak dibawah umur? Atau saat perusahaan brand dengan harga selangit memecat dan menolak memberikan pesangon kepada para buruhnya. Perancis menganggarkan lebih dari 200 juta Rupiah untuk memperbaiki Gereja Nostradame yang terbakar, namun berapa yang mereka keluarkan untuk para bayi korban perang Yaman? Untuk korban kelaparan di Afrika? Negara dan media borjuis terus memprogandakan hal buruk mengenai vandal dan gerakan anarkis untuk menutupi vandalisme yang jauh lebih besar dan berbahaya yang telah dan akan terus mereka lakukan.

Dibanyak demonstrasi kaum anarkis seperty May Day, penolakan WTO dan WB, serta aksi-aksi lain, vandalisme bisa menjadi salah satu alternatif direct action pertama yang bisa kalian lakukan, karena sebuah aksi, sebuah demonstrasi hanya akan menjadi sebuah parade yang sia-sia jika anda tidak melakukan direct action dan meninggalkan jejak. Di akhir tulisan ini, saya teringat ucapan seorang kawan anarkis dari Indonesia “Saat bendera hitam sudah dikibarkan, maka direct action harus dilakukan saat itu juga.”

Apepi Chitons

Anarkisme Adalah Utopi? Manifesto Aksi Langsung

Anarkisme adalah sebuah utopi, anarkisme hanya sebuah khayalan, anarkisme cuman mimpi di siang bolong, ungkapan itu yang sering saya temukan saat sedang diskusi (Debat) baik di forum nyata maupun sosial media. Anarkisme dianggap sebuah utopia karena pola fikir yang menganggap bahwa hierarki dan otoritas kunci keteraturan, saya tak menyalahkan anda semua yang masih berpola fikir seperti itu, karena memang sedari dini kita telah dididik bahwa otoritas terpusat adalah kunci keteraturan, namun jika di tarik lebih dalam lagi mungkin mereka belum atau bisa saja menutup mata dari fakta keberhasilan anarkisme di banyak wilayah dimuka bumi ini. Namun yang terpenting dari semua itu adalah apakah kita memperjuangkan anarkisme yang kita yakini? Tanpa perjuangan, maka semua konsep yang anda yakini, yang diyakini Berkman, Bakunin, atau Proudhon sekalipun tetap akan jadi sebuah utopi.

Jika anarkisme adalah sebuah tindakan atau aksi nyata, maka kita tidak perlu berfikir mengenai apa itu dan bagaimana anarkis? Jika anda bertanya hal ini di depan saya langsung, pasti saya akan segera berdiri dan menjawab dengan lantang “itu adalah sebuah kebodohan”, anarkisme bukan sekedar meledakan kantor walikota atau menghajar polisi saat mayday, saya selalu menekankan pada diri saya sendiri bahwa anarkis harus memiliki latar belakang dari semua tindakannya, setiap tindakan dan aksi yang kita lakukan atas nama anarkisme dan kebebasan hendaknya didasari pada filosofi yang sudah kita fikirkan. Alam fikiran dan tindakan nyata adalah sesuatu yang terhubung satu sama lain, namun kebanyakan yang kita temui saat ini adalah mereka-mereka yang terlalu banyak berfikir namun nihil tindakan, mereka inilah yang layak disebut sebagai kaum utopian.

Anarkisme adalah sebuah mimpi, sebuah harapan akan kebebasan, namun anarkisme bagi setiap orang pastinya berbeda, seorang anarkis hendaknya tidak menjadi jiplakan seorang tokoh, seorang anarkis harusnya menjadi seorang pemikir yang merdeka tanpa terpengaruh bayang-bayang sosok idola. Mulailah merdeka dari fikiran dan realisasikan hasil pemikiran anda kedalam kehidupan anda sekecil apapun itu.

Mulailah berani bermimpi.

Sabtu, 27 April 2019

Apepi Chitons

Self Radicalization